Pengelolaan Jagung Terintegrasi Dengan Pabrik Pakan Dan Peternakan

Pada hari ini, Kamis, 9 Februari 2017 bertempat di lantai 2 gedung Perum BULOG Pusat telah diadakan Focus Group Discussion “Pengelolaan Jagung Terintegrasi Dengan Pabrik Pakan dan Peternakan” dengan tujuan mendapatkan terobosan strategis dalam penanganan stabilisasi harga dan stok komoditas jagung.

Presentase penguasaan pasar jagung, industri pakan, dan peternakan merupakan hal yang mutlak perlu diperhatikan dalam menjaga kestabilan harga jual jagung dan daging. Pemerintah melalui Perum BULOG diharapkan dapat hadir pada industri tersebut dalam presentase yang nyata sehingga memberi efek teknis dan psikologis yang mengena dalam mengamankan stabilitas harga dan stok dari hulu hingga hilir. Hal ini sangat penting untuk menjaga agar harga dan stok komoditas daging selalu terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

Pada FGD ini, Drh. Cecep M. Wahyudin, DH, MH pengusaha poultry dan pengamat industri unggas dan pakan ternak nasional yang berpihak pada ekonomi kerakyatan, memaparkan model bisnis terbaik untuk pengelolaan jagung yaitu dengan industri yang terintegrasi antara produksi jagung, pakan ternak, dan peternakan. Sebagai informasi, jagung yang dikelola oleh BULOG ditujukan untuk pakan ternak. Dengan menggunakan model yang terintegrasi tersebut maka pengamanan harga dan stok dapat berpengaruh secara luas pada komoditas jagung dan produk turunan berbahan pakan jagung (daging dan telur) yang merupakan sumber protein yang murah dan mudah didapat oleh masyarakat.

Tantangan pada saat pengelolaan jagung adalah produksi jagung nasional yang terfokus pada waktu tertentu dan dalam waktu singkat sementara kapasitas infrastruktur belum mencapai pada jumlah produksi tersebut. Akibatnya akan ada sejumlah produksi yang tidak mendapatkan perlakukan pasca panen yang terbaik dan berakibat kerusakan pada komoditas jagung. Perum BULOG mendapatkan penugasan untuk menjaga harga di tingkat produsen yang artinya mempunyai kewajiban untuk membeli jagung petani pada harga tertentu. Pada saat panen serentak, maka potensi harga di bawah harga acuan akan terjadi dan apabila tidak didukung dengan infratruktur yang mencukupi akan menjadi satu tantangan tersendiri bagi BULOG maupun bagi kecukupan jagung yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan pakan ternak.

Cecep M. Wahyudin juga menyampaikan tentang ketidakwajaran dalam struktur pasar baik jagung maupun pakan ternak. Pemerintah perlu melakukan intervensi terhadap pasar tersebut dengan menjadi leader di pasar tersebut dan dapat menjaga harga di tingkat produsen maupun Konsumen.

Pada kesempatan ini juga diperkenalkan aplikasi “e-tanee” yang memperpendek rantai distribusi produk pertanian sehingga harga jual eceran dapat lebih murah dan produk lebih segar ketika sampai ke tangan konsumen. Hadirnya “e-tanee” ini memperluas keterjangkauan terhadap produk pertanian sehingga turut menstabilkan ketahanan stok di tengah masyarakat.

Indonesia yang diproyeksikan menjadi negara dengan perkembangan Gross Domestic Product (GDP) cukup tinggi perlu memperhatikan perkembangan industri ternaknya untuk menjamin pasokan gizi terbaik bagi masyarakatnya. Dalam menjawab kondisi ini, Perum BULOG siap hadir dalam mengamankan harga dan pasokan jagung dan daging untuk masyarakat Indonesia dengan pengelolaan jagung yang terintegrasi dengan pabrik pakan dan peternakan.

AddThis Social Bookmark Button