Title - Hingga Awal Tahun 2020 Kemarau, Stok Beras Aman

Hingga Awal Tahun 2020 Kemarau, Stok Beras Aman

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID, JAMBI – Musim kemarau menjadi ancaman tersendiri, terutama bagi petani. Betapa tidak, di sejumlah daerah, dikabarkan sumber air telah mengering. Dengan kondisi seperti ini tentu dapat mengancam kualitas, produksi, serta stok hasil tani.
Meski begitu, Kepala Bulog Divre Jambi Bakhtiar AS mengatakan, saat ini masih ada stok beras di gudang sekitar 7.000 ton. Menurutnya ini mencukupi untuk tiga sampai empat bulan ke depan.
Dia mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi ketersediaan beras di musim kemarau ini. Dengan adanya stok saat ini, sampai Januari 2019 pun menurutnya masih mencukupi.
“Ini penyalurannya 1.500 hingga 2.000 ton perbulan ke seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jambi,” katanya. Bakhtiar mengatakan, semua beras yang dikelola oleh Bulog merupakan beras kualitas premium. Dengan harga jual Rp 8.600 perkilogramnya untuk harga eceran di Operasi Pasar.
Beras tersebut berasal dari berbagai daerah. Termasuk dari petani lokal di Provinsi Jambi. Seperti dari Tanjab Barat, Tanjab Timur, yang dikelola langsung oleh subdivre Bulog Tungkal. Dia mengatakan, meskipun dibeli ke petani, kualitas berasnya masih beras medium. “Ada juga dari Kerinci dan Bungo,” katanya.
Disebutkan Bakhtiar, 2.000 ton perbulan tersebut disalurkan untuk pelaksanaan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai ganti Bansos Beras Sejahtera (Rastra). Namun, tidak semua kebutuhan BPNT tersebut, dipenuhi oleh Bulog.
Sejumlah wilayah menggunakan suplier beras lain untuk pelaksanaan program tersebut. Ditanyakan mengenai kekhawatiran akan terjadi penurunan kualitas beras ketika lama tersimpan di gudang bulog, Bakhtiar mengatakan Bulog hanya menyetok beras untuk masa paling lama empat bulan. Ketika beras yang ada hany cukup untuk satu bulan, maka pihaknya akan mendatangkan beras baru.
Selain itu, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kerinci yakin target produksi padi tercapai. Produksi padi di Kerinci tahun ini sebanyak 230 ribu ton, sama dengan tahun lalu, dengan target luas tanam 17.000 hektare, meski saat ini masuk musim kemarau.
Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, Radium Halis mengatakan, wilayah dengan luas tanam terluas di antaranya Kecamatan Siulak, kecamatan Siulak Mukai, Kecamatan Depati Tujuh, Kecamatan Keliling Danau, Kecamatan Air Hangat dan Air Hangat Barat. "Kita kembangkan bibit padi inpari 28 k, ciherang, dan lainnya termasuk padi payo yang saat ini sudah bisa dua kali panen dalam setahun," jelasnya.
Kata dia, meski saat ini ada lahan yang sudah kering namun masih bisa diatasi. Karena sawah di Kerinci menggunakan irigasi, tidak sama dengan daerah lain yang sawah tadah hujan. "Pemkab Kerinci telah melakukan langkah antisipasi terhadap lahan yang tidak bisa digarap karena tak cukup sumber air, seperti di Kecamatan Keliling Danau yang biasanya menggunakan kincir air mengairi sawah sekarang tidak bisa. Karena air Sungai Batang Merao mengalami surut sehingga pemerintah telah memberikan lima pompa air berukuran besar untuk mengairi sawah petani," jelasnya.
Sementara itu, Rapuan Kadis Ketahanan Pangan Kerinci, mengatakan stok beras di Kerinci saat ini berlebih. Karena mengalami surplus tiap tahunnya, bahkan beras kerinci dibawa ke luar daerah. "Seperti Merangin, Sarolangun dan Jambi serta di Padang Sumatera Barat." jelasnya.
Sementara itu, stok ketersediaan beras di Kabupaten Tanjab Barat dipastikan aman. Hal itu disampaikan oleh Kepala Sub Drive, Rahim Uddin melalui Kasi Pengadaan dan Operasional Sub Drive Kuala Tungkal, Artur Danil. Hingga per 19 Agustus kemarin, stok operasional disebutkannya mencapai 435.946,4 kilogram.
Artur mengatakan, penyerapan beras pengadaan yang berasal dari petani Tanjab Barat di tahun 2019 sebanyak 57.050 kilogram. "Penyerapan beras pengadaan dari petani itu kita melihat jenis beras dan harganya juga. Untuk itu tidak semua beras dari petani kita serap, karena sebagian beberapa petani kategorinya berbeda," ungkapnya.
Terpisah, Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Zainudin menuturkan luas lahan sawah di tahun 2018 sebesar 9.461 hektare, sedangkan untuk luas lahan panen sebesar 10.183 hektare.
Di Merangin, meski dilanda kekeringan yang mengakibatkan beberapa sawah gagal panen, hingga saat ini stok beras masih terbilang mencukupi. Hal tersebut ditegaskan oleh Mashuri, Wakil Bupati Merangin. Lanjutnya lagi, di luar stok beras asli Merangin, pemerintah pun juga menyediakan stok beras yang berasal dari luar daerah.
Sementara itu, Kadis Ketahanan Pangan Merangin, Slamet Sudarsono mengatakan, ketersediaan stok beras Merangin masih mencukupi hingga 10 bulan ke depan. "Kebutuhan per tahun masyarakat kebupaten merangin menghabiskan 3.000 ton beras. Sedangkan pertahunnya petani menghasilkan beras sebanyak 57.000 ton, berarti saat ini kita masih punya lebih 41.000 ton sisa dari panen tahun kemarin, yang ini murni beras asli Merangin. Di luar itu pun kita masih punya Bulog juga, yang menstok beras dari daerah lain," terangnya.
Selain itu, dalam upaya memenuhi kebutuhan atau konsumsi beras di Kabupaten Sarolangun, sebanyak kurang lebih 48 ribu ton beras disiapkan dalam setahun. Ini disampaikan langsung oleh Kadis Ketahanan Pangan (DKP) Sarolangun, Dulmuin melalui Kabid Ketersediaan Pangan, Hayatuddin, Senin (12/8).
“Jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 290.231 jiwa di Sarolangun berdasarkan data tahun 2018. Kalau untuk penghitungan per individunya 165.57 kilogram beras dalam setahun,” katanya.
Kata dia, untuk memenuhi banyaknya jumlah konsumsi beras tersebut, impor beras dari luar daerah terpaksa dilakukan. “Jadi sekitar 8.000 ton beras yang kurang, didatangkan dari luar daerah seperti Padang, Kerinci dan Solok,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Distribusi Pangan DKP Sarolangun, Ahmad Fadlan mengatakan, selain ketersediaan beras tersebut, Pemkab Sarolangun melalui pihaknya juga menyediakan cadangan beras lainnya. Yakni cadangan beras pemerintah. Di mana cadangan beras ini digunakan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana alam.
“Tahun ini cadangan beras pemerintah sebanyak tiga ton. Jadi sistemnya kita bekerja sama dengan pihak Bulog. Jadi kita simpan di sana berasnya. Kapan ada bencana dan usulan bantuan beras, baru kita salurkan,” terangnya.
(enn/sap/zol/mtl/rin/zen/muz/rib)

AddThis Social Bookmark Button