Title - Hasil Panen Petani Jember Bisa Diserap Bulog, Asal Sesuai Standar

Hasil Panen Petani Jember Bisa Diserap Bulog, Asal Sesuai Standar

RADARJEMBER.ID – Keluh-kesah petani terkait jatuhnya harga gabah akhirnya terjawab. Perum Bulog Subdrive Jember bisa melakukan pembelian gabah petani, tanpa batas atau unlimited. Syaratnya, kualitas gabah harus sesuai standar yang diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015.

Terungkapnya pembelian atau penyerapan gabah unlimited tersebut saat perwakilan petani melakukan audiensi lanjutan di kantor Bulog Jember, Jalan Letjend Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari.

Dalam rapat itu juga hadir perwakilan dari Kementerian Pertanian RI. Ketua Forum Komunikasi Petani Jember (FKPJ) Jumantoro mengungkapkan, terjadinya harga gabah yang sempat murah harus menjadi perhatian, agar ke depan tidak terjadi lagi anjlok hingga di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).

“Kedatangan kami ke sini untuk memastikan berapa banyak gabah yang mampu diserap Bulog. Kemudian, kami juga ingin tahu bagaimana gabah yang standar itu. Kemudian, dengan terjadinya gabah murah, paling tidak harapan kami ke depan jangan sampai harga gabah di bawah HPP lagi,” kata Jumantoro.

Sementara Edy, salah satu petani menyebutkan, HPP saat ini sebenarnya sudah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Dia mengusulkan kepada pemerintah agar HPP dinaikkan. “Harapan kami kembalikan Bulog pada lembaga penyangga ketahanan pangan nasional,” ucapnya.

Menanggapi petani, Kepala Bulog Subdrive Jember Jamaludin menjelaskan, pembelian gabah oleh Bulog kepada petani tidak terbatas. Artinya, anggaran Bulog selalu standby untuk melakukan penyerapan gabah.

Gabah yang diserap, menurutnya dari semua varietas padi, termasuk beras jenis Logawa atau padi jenis lain. “Penyerapan gabah sebanyak-banyaknya. Tetapi harus sesuai standar kualitas berdasar Inpres Nomor 5 Tahun 2015. Bulog siap melakukan pembelian sebanyak-banyaknya. Untuk anggaran standby,” tegas Jamaludin.

Dia menjelaskan, standar yang diatur dalam Inpres yaitu membedakan antara harga gabah kering panen (GKP), harga gabah kering giling (GKG), serta harga pembelian beras. “GKP kita serap, GKG dan berasnya juga kita serap,” jelasnya.

Untuk GKP, HPP-nya yaitu sebesar Rp 3,700 atau direfraksi hingga Rp 4.070. Syaratnya, standar kualitas yang harus dipenuhi, yaitu mengandung kadar air maksimal 25 persen dan hampa/kotoran maksimal 10 persen. Apabila standarnya melebihi dari ketentuan itu, maka Bulog tidak akan menerimanya, karena terbentur dengan patuh peraturan hukum, yakni Inpres.

Sedangkan untuk GKG, HPP-nya yakni sebesar Rp 4.600 atau bila direfraksi bisa mencapai Rp 5.115. Harga tersebut apabila memenuhi standar kualitas yaitu kadar air maksimal 14 persen dan hampa atau kotoran 3 persen. “Jangan sampai petani mau menjual, tetapi tidak diterima karena tidak standar Inpres. Bulog tidak boleh membeli kalau tidak standar Inpres,” papar Jamaludin.

Sementara itu, terkait kapasitas pembelian gabah, Bulog sebenarnya bias menyerap sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, ada keterbatasan pada lahan jemur serta mesin pemanasnya. Untuk lantai jemur, Bulog Jember memiliki kapasitas 30 ton per siklus dan dryer atau mesin pemanas berkapasitas 20 ton per siklus.

Penjualan gabah kepada Bulog secara langsung juga bisa dilakukan semua petani. Asalkan berkoordinasi terlebih dahulu terkait kapasitas tersebut. “Kalau yang dijual GKG dan sesuai standar, semuanya bias diterima karena langsung masuk gudang,” paparnya.

Jamaludin mengimbau agar petani menginformasikan apabila ada penggilingan yang melakukan pembelian gabah di bawah HPP. Selama ini, Bulog tidak pernah melakukan pembelian di bawah HPP. “Bulog siap membeli gabah di mana pun, syaratnya sesuai standar Inpres. Kalau tidak sesuai standar, Bulog tidak boleh membelinya. Ada dasar hukum yang harus ditaati Bulog. Nah, agar tahu bagaimana standar Bulog, perwakilan petani bisa tanya langsung kepada petugas Bulog,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Harga Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI Maino Dwi Hartono mengungkapkan, pihaknya hadir di Jember karena ada tugas untuk mengawal hasil pertanian di wilayah Jawa Timur. Menurutnya, harga gabah murah di Jember tidak terjadi di semua tempat.

“Kami ditugaskan di Jawa Timur. Kami turun sudah beberapa hari terakhir. Kemarin di Banyuwangi dan beberapa daerah lain. Kami Benar-benar mengawal agar harga gabah tidak jatuh. Mewakili Badan Ketahanan Pangan, siap menerima semua gabah. Untuk Bulog, dananya unlimited. Syaratnya seperti tadi, harus sesuai standar Inpres,” ucapnya.

Maino mengaku, HPP gabah tahun 2019 yang menggunakan Inpres Tahun 2015 memang sempat menjadi pembahasan sejumlah elite di Jakarta. Akan tetapi, rencana perubahan Inpres belum terlaksana. “HPP Rp 3.700 sempat dibahas, tetapi karena mekanismenya panjang, sampai sekarang belum ada perubahan. Yang jelas, tuntutan agar HPP naik akan kami sampaikan ke kementerian,” tegasnya.

sumber : https://radarjember.jawapos.com/2019/04/08/bisa-diserap-asal-sesuai-standar/

AddThis Social Bookmark Button