Title - Perum Bulog Jaga Stabilitas Harga Untuk Tekan Inflasi

Perum Bulog Jaga Stabilitas Harga Untuk Tekan Inflasi

JAKARTA, KOMPAS — Perum Bulog terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan, terutama beras, pada tahun 2019 agar dapat berkontribusi dalam menekan inflasi. Pada tahun 2018, Perum Bulog telah melakukan program ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga di seluruh wilayah Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh di Jakarta, Sabtu (5/1/2019). ”Tahun 2018, Perum Bulog melakukan program ketersediaan pangan dan stabilisasi harga (KPSH) sejak Januari sampai Desember 2018,” kata Tri Wahyudi.

Dengan program itu, lanjut Tri Wahyudi, harga beras, terutama beras medium, relatif terkendali sehingga dapat berpengaruh pada inflasi yang terjaga. Pada 2019, berdasarkan rapat koordinasi terbatas di kantor Menko Perekonomian, Bulog akan terus melakukan program KPSH sampai 31 Mei 2019.

”Itu nanti bisa saja diperpanjang,” kata Tri Wahyudi. Ia menambahkan, penyaluran KPSH dalam pekan pertama tahun 2019 mencapai sekitar 13.000 ton.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Januari-Desember 2018 mencapai 3,13 persen. Angka ini lebih rendah daripada inflasi 2017 sebesar 3,61 persen.

Melalui program KPSH tahun 2018, menurut Tri Wahyudi, Perum Bulog telah menyalurkan beras sebanyak 544.000 ton. ”Itu penyaluran tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” katanya. Ia menambahkan, tahun 2017, penyaluran beras dalam bentuk operasi pasar (OP) lebih kurang hanya 100.000 ton.

Tri Wahyudi menambahkan, stok beras Perum Bulog pada awal tahun 2019 sebanyak 2,1 juta ton. Pengadaan beras dalam negeri tahun 2019 ditargetkan sebesar 1,8 juta ton. Dengan demikian, ketersediaan beras Bulog pada 2019 mencapai hampir 4 juta ton.



Gangguan cuaca
Tri Wahyudi menambahkan, upaya menjaga stabilitas harga beras di berbagai daerah di Indonesia dilakukan Perum Bulog juga dengan mengantisipasi gangguan cuaca, seperti gelombang tinggi. ”Pada Agustus, September, dan Oktober, Bulog sudah mendistribusikan stok beras di daerah-daerah, seperti Indonesia bagian timur,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Tri Wahyudi, saat terjadi gangguan cuaca berupa gelombang tinggi, stok beras sudah tersedia di daerah-daerah. Selain itu, Bulog juga berupaya mendistribusikan beras di daerah bencana agar ketersediaan beras tetap ada dan harga tidak melonjak. ”Seperti di Palu, Bulog langsung berkoordinasi untuk penyaluran beras dari gudang-gudang Bulog yang ada,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, pemerintah perlu memperbaiki sisi hulu sektor pertanian untuk menjaga inflasi tetap rendah.

”Produktivitas dan rantai pasok sektor pertanian sangat menentukan dan memengaruhi tingkat inflasi,” kata Adhi. Kebijakan pemerintah perlu mendukung penyediaan bibit dan pupuk tepat waktu dan harga terjangkau serta mampu menekan biaya produksi.

Adhi menambahkan, rencana pemerintah menghapus atau mengurangi subsidi bahan bakar minyak juga bisa memengaruhi inflasi. Dari sisi pelaku usaha, sejumlah pelaku usaha merencanakan menaikkan harga produk makanan dan olahan.

Kenaikan harga itu, lanjut Adhi, tidak bisa dihindari karena pelaku usaha sektor logistik atau transportasi juga akan menaikkan biaya transportasi dan adanya kenaikan biaya pekerja karena ada kenaikan upah lebih kurang sebesar 8 persen.

AddThis Social Bookmark Button