Title - Jelang Akhir Tahun, Komposisi Beras Premium Lebih Banyak

Jelang Akhir Tahun, Komposisi Beras Premium Lebih Banyak

JAKARTA - Seperti kekhawatiran dan perkiraan kalangan petani, data baru produksi beras Badan Pusat Statistik (BPS) dengan metode Kerangka Sampling Area (KSA), kembali memunculkan wacana impor beras.
Sebagian pengamat menyandarkan pendapatnya pada data BPS bahwa harga beras jenis medium mengalami kenaikan di bulan September dari Rp 9.198 menjadi Rp9.310 per kilogram (kg). Juga tentu berkaitan dengan data surplus beras BPS yang hanya mencapai 2,8 juta ton.
Manajemen PT Food Station Tjipinang Jaya memang menyebutkan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) membutuhkan pasokan beras medium paling sedikit 100 ribu ton sepanjang November 2018 hingga Maret 2019. Pasokan beras jenis tersebut diperlukan guna meredam harga beras di PIBC yang saat ini merangkak naik hingga berkisar Rp 9.000 per kilogram.
PT Food Station Tjipinang Jaya selaku pengelola PIBC juga telah menyampaikan permintaan operasi pasar (OP) kepada Pemprov DKI Jakarta, untuk diteruskan ke pemerintah pusat dan dilaksanakan oleh Perum Bulog.
Namun Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi memastikan, OP tersebut tidak disebabkan oleh minimnya stok.
"Kalau bicara stok di PIBC saat ini, yang berkisar 48 ribu ton, itu sangat aman. Tapi karena (yang beredar) beras premiumnya, (yang) kualitas bagus lebih banyak. Jadi, memang kita memerlukan siraman beras medium dari Bulog," kata Arief dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (2/11/2018).
Menjelang akhir tahun ini, komposisi pasokan beras ke PIBC terdiri dari 84 % beras premium dan medium 16%. Tahun 2016 dan 2017, komposisi pasokan beras tersebut terdiri dari 70% premium dan 30 % medium. Peningkatan pasokan beras premium akibat faktor musiman.
"Jadi, pada November sampai Desember nanti yang lebih banyak berasnya adalah kualitas premium, karena beras yang dihasilkan pada musim kemarau berkualitas lebih baik, kadar airnya sangat baik karena panasnya cukup. Nanti di Mei - April kebalikannya," jelas Arief.
Selain faktor musiman tadi, Ketua Umum Nasional Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menambahkan sebab lain langkanya stok beras medium. Menurutnya pedagang lebih suka berjualan beras premium karena lebih memilliki nilai ekonomi.
“Karena orang penggilingan pasti ke bisnis. Sekarang itu ada mesin rice to rice buatan vietnam. Jadi barang jelek bisa jadi bagus.
Dengan mesin itu, Winarno menambahkan beras-beras medium dapat dijual sebagai beras premium. Menjual beras premium marjin keuntungan yang diperoleh tentu akan lebih besar ketimbang menjual beras medium.
“Nggak mau dia jual medium, rugi. Ya premium lah bikinnya. Misalkan ini beras bulog, hancur. Masukkan situ, nah nanti tepung-tepungnya itu bikin biskuit, di lempar ke pabrik biskuit," tutup Winarno.
(Feb)

AddThis Social Bookmark Button