Daging Kerbau Impor: Bulog Salurkan Melalui Rpk Dan Mitra

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) berencana menyalurkan daging kerbau beku impor kepada mitra-mitra yang selama ini bekerjasama dengan mereka. Daging beku impor itu didatangkan dari India.
Direktur Komersial Bulog Tri Wahyudi mengatakan Bulog akan menjual daging beku impor tersebut kepada gerai-gerai resmi yang sudah bekerjasama. Adapun, mitra yang akan ditunjuk seperti outlet pangan milik perusahaan yakni Rumah Pangan Kita (RPK), Hotel, restoran, dan kafe (horeka) maupun jaringan Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI).
“Penjualan daging beku kerbau dari India dijual ke outlet-outlet Bulog seperti RPK, Horeka melalui penjualan langsung atau melalui Asosiasi Distributor Daging Indonesia,” katanya kepada Bisnis, Selasa (27/2/2018).
Pada tahun ini, Bulog akan mengimpor daging kerbau beku asal India sebanyak 100.000 ton untuk persediaan sepanjang 2018. Bulog menyediakan dana hingga Rp1 triliun untuk merealisasikan proyek ini.
Direktur pengadaan Bulog Andrianto Wahyudi mengatakan daging impor tersebut kemungkinan akan tersedia setelah bulan Maret. Hal tersebut disebabkan pelaksanaan proses impor masih harus menjalani panjang.
Andrianto menjelaskan proses yang harus dilewati adalah penyediaan pasokan kerbau, pemotongan, pengangkutan, pemuatan dan pelayaran.
“Akhir Maret tampaknya belum [sampai], karena lead time dari India lebih dari satu bulan. Pemasok membeli kerbau, memotong, mengemas, dan mengangkut ke kontainer. Lalu memuat di pelabuhan dan pelayaran selama 14 hari. [Estimasi sampai] lebih dari satu bulan,” katanya.
Selain itu, Bulog merencanakan pembelian daging kerbau impor akan dilakukan secara bertahap. Setiap pengiriman daging beku yang disetujui sebesar 20.000 ton per kontrak.
“Bertahap ya kami akan impor sekitar 20.000 ton per kontrak,” katanya.
Bulog akan melakukan proses lelang daging beku kerbau impor pada minggu ini. Dia memperkirakan terdapat 7 perusahaan yang sudah tersertifikasi halal akan mengikuti proses lelang. Sementara untuk detil pelaku, Andrianto tidak dapat menyebutkan detilnya.
Dia mengatakan saat ini konsumsi protein per kapita Indonesia relatif rendah. Oleh sebab itu daging impor tersebut dapat menjadi alternatif bagi konsumen agar dapat mengonsumsi protein hewani dengan harga yang terjangkau.
pandu
bisnis.com

AddThis Social Bookmark Button