Penjelasan Bulog Mengenai Pemberitaan Oplosan Beras

Menanggapi beberapa pemberitaan di media cetak maupun online mengenai keberadaan pengoplos beras di Perum BULOG, perlu kami sampaikan bahwa Perum BULOG merupakan BUMN pelaksana (operator) dari kebijakan Pemerintah sebagaimana Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2016 mengenai Penugasan Pemerintah kepada Perum BULOG. Setiap kegiatan yang dilakukan merupakan bentuk pelaksanaan dari tugas dan kebijakan pemerintah.
Adapun terkait kejadian penyelewengan bahan pangan yang ikut membawa nama Perum BULOG, perlu kami jelaskan sebagai berikut:
1. Penemuan beras oplosan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin merupakan temuan tim satgas pangan, dimana mitra penyalur menyalahgunakan beras operasi pasar BULOG dengan mengganti kemasan karung dan menjualnya kembali dengan harga diatas HET (Harga Eceran Tertinggi). Adapun gudang BULOG saat ini digunakan sebagai tempat penitipan barang bukti. Dalam kegiatan pengoplosan tersebut, pegawai BULOG tidak terlibat.
Begitu juga kasus pengoplosan beras di Pasar Induk Beras Cipinang pada tahun 2016, telah ditetapkan pelaku pengoplosan dilakukan oleh penyalur beras downline dari PT. DSU, dan pegawai BULOG tidak terlibat sebagai pelaku.
2. Dugaan pengoplosan beras rastra di Sumatera Selatan, Polda Sumsel telah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut bukan bentuk pengoplosan melainkan kegiatan reproses (mengolah beras yang telah turun mutu akibat penyimpanan di gudang dan diperbaiki kualitasnya), dan Perum BULOG mempunyai ketentuan dan SOP untuk hal tersebut.
3. Pengoplosan/penggantian kemasan yang terjadi di Kalimantan Selatan, dilakukan oleh pihak mitra penyalur yang menyalahgunakan beras CBP sebanyak + 40 ton dan disalurkan ke luar daerah. Pihak Kepolisian telah menetapkan tersangka dalam kasus tersebut dan tidak terdapat pegawai BULOG dalam penetapan tersangka.
4. Perkara beras hilang di gudang Randugarut, Semarang, Divre Jawa Tengah, manajemen Perum BULOG telah melaporkan hal tersebut ke Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan telah dilakukan pemeriksaan terhadap oknum BULOG yang telibat dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
5. Kasus suap gula di Sumatera Barat, melibatkan mitra penyalur/pedagang dengan pejabat yang merupakan Mantan Ketua DPD RI. Berdasarkan putusan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, BULOG tidak dinyatakan bersalah/turut serta melakukan perbuatan tersebut.
6. Penggerebekan Gudang Gula, merupakan kegiatan Satgas Pangan Polda Jateng yang menemukan penimbunan barang di gudang PT Kayu Manis Perdana (KMP) di Kendal. Gula yang ditemukan menggunakan kemasan PT GMM dan merupakan hasil produksi sebelum tahun 2017. Pada saat kejadian penggerebekan (Mei 2017), PT GMM yang telah diakuisisi oleh BULOG belum memiliki stok GKP (Gula Kristal Putih), karena produksi baru dimulai pada bulan Mei 2017 dan penjualan pertama di bulan Juni 2017.

7. Penugasan importasi gula rafinasi berdasarkan hasil Rapat Terbatas yang dipimpin oleh Presiden RI pada tanggal 8 Juni 2016, menugaskan Perum BULOG melaksanakan stabilisasi harga gula pasir. Impor yang dilakukan oleh BULOG merupakan implementasi dari pelaksanaan kebijakan pemerintah dan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pendistribusian gula impor telah dilakukan kerjasama penjualan dengan berbagai pihak antara lain melalui Rumah Pangan Kita (RPK). Selain itu, telah dilakukan perbaikan terhadap gula yang mengalami kerusakan dengan dilakukan reproses dan bekerjasama dengan berbagai pabrik gula baik BUMN maupun swasta.
8. Penetapan harga daging kerbau impor dari India memperhatikan harga komoditi yang berlaku di pasaran dunia dan telah dilakukan survei ke Negara tetangga (Malaysia) yang telah terlebih dahulu melakukan impor daging kerbau dari india. Harga pembelian Perum BULOG USD 3.5/kg merupakan harga pembelian untuk daging jenis compensated meat (daging kombinasi jenis potongan daging forequarter/prosot depan dan hindquarter/prosot belakang). Sedangkan di Malaysia ditemukan pula harga impor USD 2.4/kg untuk daging jenis trimming (potongan daging kecil/tetelan dan merupakan daging kualitas rendah untuk industri olahan daging).

Jakarta, 9 Januari 2018
Humas Perum BULOG

AddThis Social Bookmark Button