Bulog Wujudkan Pengembangan Infrastruktur Pascapanen

PERUM BULOG cukup peka dalam menyiapkan musim panen kedelai mendatang. Perusahaan BUMN tersebut membangun infrastruktur gudang penyimpanan kedelai di kawasan Gudang BULOG Divre Jatim, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.
Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Perum BULOG, Wahyu Suparyono, melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gudang kedelai tersebut. Acara tersebut disaksikan Kepala BULOG Divre Jatim, Muhammad Hasyim, dan sejumlah pejabat Pemprov Jatim maupun setempat.
Wahyu menjelaskan, pembangunan gudang dengan kapasitas 3.500 ton dengan lebar 30 meter dan panjang 54 meter serta tinggi 7 meter, merupakan salah satu realisasi program Penyertaan Modal Negara (PMN). Proyek tersebut direncanakan akan
selesai dibangun dan dapat dioperasikan 5 bulan mendatang.
Pembangunan gudang tersebut merupakan realisasi amanah UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Perpres Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perum BULOG untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Untuk menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen serta produsen, Perum BULOG harus dilengkapi dengan ketersediaan maupun pengembangan infrastruktur pascapanen terutama padi, jagung, dan kedelai (pajale).
Menurut Wahyu, pembangunan infrastruktur tersebut sebagai bentuk kepedulian BULOG terhadap petani kedelai. Bahkan, pihaknya menyiapkan dana sebesar Rp2 triliun yang diperoleh dari Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk membangun infrastruktur logistik pangan.
“Rencananya ada 13 gudang penyimpanan kedelai yang akan didirikan oleh BULOG. Salah satunya di Jawa Timur. Dan Insya Allah empat bulan ke depan selesai,” katanya.
Tidak hanya itu, kata Wahyu, sejumlah infrastruktur yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja BUMN pangan juga sudah dipersiapkan, yakni penggilingan beras (rice milling unit/RMU), mesin pengolahan beras (rice to rice processing), serta gudang kedelai.
Pembangunan infrastruktur logistik pangan tersebut, nantinya diprioritaskan di wilayah sentra produksi pangan, seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah, Jatim, dan Lampung untuk beras, sedangkan untuk kedelai di NTB dan Jatim.
Wahyu menjelaskan, pada akhir Desember 2016, Perum BULOG mendapatkan tambahan dana PMN sebesar Rp2 triliun yang diperuntukkan bagi pengembangan infrastruktur pascapanen padi/beras, jagung, dan kedelai.
Dana tersebut akan digunakan untuk empat kegiatan utama, yaitu peningkatan penyerapan hasil panen gabah/ beras petani melalui pembangunan modern rice milling plant (MRMP) dengan kapasitas total 1.000.000 ton setara gabah kering panen (GKP) per tahun di sentra-sentra produksi padi.
Kemudian, dana tersebut untuk meningkatkan kemampuan serapan dan pengolahan beras lokal maupun impor dengan membangun 16 unit mesin rice to rice. Selain itu, untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen jagung melalui teknologi pengeringan modern dengan pembangunan 11 unit drying centre dan 64 unit penyimpanan (SILO) jagung di sentra produksi jagung.
Terakhir, dana Rp2 triliun pembangunan 13 unit gudang kedelai di sentra produksi kedelai. “Pengembangan infrastruktur
pascapanen ini memang kegiatan terbesar yang pertama kali dilakukan Perum BULOG selama 14 tahun terakhir, oleh karena itu telah dilakukan berbagai kegiatan untuk mendukung kelancaran realisasi pembangunan infrastruktur,” katanya.
Selama proyek berlangsung dilakukan dengan cermat dan penuh dengan semangat good corporate governance (GCG), antara lain dengan menyusun kajian kelayakan (feasibility study) bekerja sama dengan konsultan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB).
Bahkan, pembahasan dan request for information (RFI) dengan BUMN penyedia jasa project management consultant (PMC) serta engineering, procurement, and construction (EPC) untuk mencari informasi terkait dengan ruang lingkup kegiatan yang akan dituangkan dalam kerangka acuan kerja (KAK).
Proyek selanjutnya
Pembangunan infrastruktur pada lahan eksisting milik Perum BULOG akan dilakukan di beberapa wilayah kerja divisi regional dan subdivisi regional lain, di antaranya rice to rice sebanyak tujuh unit dengan lokasi di Bandar Lampung, Subang, Klaten, Kedu (Purworejo), Jember, Pare-Pare, dan Sidrap.
Kemudian, pembangunan gudang kedelai sebanyak enam unit dengan lokasi di Bandar Lampung, Subang, Cianjur, Banyumas, dan Surabaya Utara. Pembangunan modern rice milling plant (MRMP) terintegrasi sebanyak lima unit dengan lokasi di Ngawi, Sragen, Jember, Pinrang, dan Sumbawa. Serta, pembangunan Corn Drying Center dan SILO sebanyak tiga unit dengan lokasi di Medan, Bulukumba, dan Gorontalo.
“Untuk kelengkapan infrastruktur pendukung lainnya dari dana non-PMN. BULOG juga melakukan penyediaan mesin/alat kemas timbang beras dan gula, alat dan mesin pertanian (alsintan), rehabilitasi, dan pembangunan gudang baru untuk komoditas beras, serta rehabilitasi dan revitalisasi unit pengolahan gabah/beras,” tukasnya. (FL/S1-25)
Faishol


AddThis Social Bookmark Button