Bulog Jamin Kualitas Beras Di Sulselbar Terjaga

Kepala Divisi Perum Bulog Sulselbar, Dindin Syamsuddin, menjamin kualitas beras yang dibeli dan disalurkan pihaknya ke masyarakat senantiasa terjaga. Pihaknya memiliki standar prosedur berupa pengecekan mutu dan kualitas beras. Karena itu, kasus dugaan pengoplosan beras premium yang dilakukan PT Indo Beras Unggul (IBU) tidak mungkin terjadi di Bulog.
"Tidak ada poles-poles di sini (Bulog Sulselbar). Kalau medium ya medium, begitu juga untuk premium. Keberadaan sarana pasca-panen yang baik sangat mendukung di Sulselbar. Alhasil ya tidak ada beras yang berkualitas buruk, yang paling rendah ya medium," kata Dindin, di sela acara Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Sergap dan Satgas Pangan di Kota Makassar, Sulsel, Kamis lalu.
Menurut Dindin, untuk menjaga mutu beras Bulog, pihaknya memiliki prosedur perbaikan kualitas alias reproses. Diakuinya dari ratusan ribu ton beras yang diserap dan disimpan hingga 1 tahun, tidak menutup kemungkinan terjadi penurunan mutu. Untuk itu, Dindin menyebut perlu dilakukan perbaikan kualitas. Namun, hal tersebut tidak berarti kualitas beras tersebut buruk.
Penanganan perbaikan kualitas beras di Bulog terdiri atas lima metode. Di antaranya yakni blowing berupa pembersihan beras dengan cara menghembuskan angin untuk menghilangkan debu, mengurangi bau dan menghilangkan hama. Lalu, ada pula metode glosor, sosoh, mixing dan sosoh disertai pengkabutan. "Metode reproses dipilih tergantung kondisi beras. Tujuannya sama yakni memperbaiki kualitas beras," urainya.
Hingga awal Agustus, merujuk data Bulog Sulselbar, Dindin memaparkan kondisi beras yang disimpan di gudang cukup baik. Tercatat ada 138.801 ton beras yang berkualitas baik. Adapun beras yang mengalami penurunan mutu sebatas 9.346 ton. Secara keseluruhan, pihaknya menargetkan penyerapan beras tahun ini di wilayahnya mencapai 418 ribu ton. Untuk itu, Bulog Sulselbar menyiapkan anggaran hingga Rp4 triliun.
Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Hadi Basalamah, mengungkapkan Bulog merupakan perpanjangan tangan pemerintah yang mesti menjaga stabilisasi pangan, termasuk kualitasnya. Terkhusus beras, diyakininya bahwa kualitas beras yang ada di Sulsel senantiasa terjaga. "Sulsel ini menyuplai beras untuk Indonesia. Makanya, kualitas itu menjadi penting. Baru-baru ini kita sudah ada kesepakatan untuk menyuplai beras ke Maluku dan Papua," tuturnya.
Hadi mengimbuhkan permasalahan kualitas beras tersebut berupaya dijaga pihaknya dengan menerbitkan peraturan daerah. Regulasi lokal tersebut mengatur mengenai mutu dan kualitas beras melalui sertifikasi. "Kualitas beras itu harus dijaga dan sangat penting karena berpengaruh pada daya saing," tutup dia.
(Tri Yari Kurniawan)

AddThis Social Bookmark Button