Persoalan Rantai Distribusi Pangan Yang Tak Mudah Diselesaikan

Puluhan tahun, persoalan rantai distribusi pangan tak juga dapat diselesaikan pemerintah sehingga menyebabkan harga pangan pokok kerap melambung dan sulit dikendalikan.

"Sudah puluhan tahun itu (rantai distribusi) dibiarkan dan dikelola oleh swasta dalam artian menjadi mekanisme pasar mereka," ujar Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti kepada Kompas.com, Jumat (24/2/2017).

Menurutnya, hal itu terjadi karena rantai distribusi telah lama diabaikan oleh pemerintah. "Rantai distribusi ini telah ditinggalkan pemerintah dan dikuasai oleh mekanisme pasar," tambahnya.

Djarot mengatakan, pada beberapa komoditas pokok terjadi ketidakadilan harga akibat panjangnya rantai distribusi bahan pokok dari produsen ke konsumen.

"Contoh dari petani harga 10 rupiah sampai pedagang 18 rupiah, nah pemerintah harus memotong rantai itu, mengefisienkan rantai itu," tegas Djarot.

Menurut dia, memang diperlukan waktu dan proses yang tidak sebentar untuk memperbaiki tata kelola pangan saat ini mengingat mekanisme pasar telah berakar kuat dalam rantai distribusi.

Sebagai lembaga yang menjadi regulator dalam stabilisasi harga pangan di tingkat produsen dan konsumen, Bulog tengah mengintensifkan program Rumah Pangan Kita (RPK).

"Bulog mencoba melangkah, ya masih banyak kekurangan, tetapi kita telah melangkah. Bulog mencoba membangun rumah pangan kita untuk memotong rantai distribusi, tetapi hasilnya memang belum sempurna, masih banyak hambatan di sana sini," papar Djarot.

Hingga saat ini Bulog baru memiliki 12.000 RPK yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, Bulog juga telah memanfaatkan teknologi digital dalam operasional RPK.

"Dulu RPK itu antre ambil barang ke Bulog. RPK ini pengusaha kecil jadi enggak cukup punya tenaga. Kalau dia harus ke Bulog dia harus tutup sementara. Jadi, kami punya konsep RPK tinggal pesen, barang datang dengan memanfaatkan teknologi. Pengiriman dibatasi satu kali dalam 24 jam," pungkasnya.


(Pramdia Arhando Julianto)

AddThis Social Bookmark Button