Petani Demak Gembira Panennya Diborong Bulog

Raut wajah bahagia terpancar dari muka Mukorobib. Senyum tersungging dibalik kumisnya yang sudah berwarna putih saat bulog menyepakati akan membeli hasil panennya, Senin (12/2).
Para petani di Demak sempat khawatir padi mereka yang rusak gara-gara banjir, tak laku dijual.
Sebelumnya, tim penguji teknis bulog datang terlebih dahulu untuk melihat sampel panen.
Di hadapan para petani mereka melakukan beberapa pengujian mulai dari kadar air, hingga kandungan kotoran dari gabah. Dari hasil uji tersebut, didapatkan bahwa hasil panen berada di kualitas rendah karena mengandung kadar air 32 persen.
Mukorobib tidak menampik hasil pengujian tersebut. "Memang kali ini jelek, karena hujan sehingga sawah terendam, jadi saya nggak menampik kandungan airnya segitu," bebernya. Dengan kandungan tersebut padinya dihargai Rp 3.300 per kilogram.
Ia menjelaskan jika sawahnya tidak tergenang, hasil panennya dihargai Rp 4.000 per kilo. Kini ia sudah bersyukur dibeli dengan harga dibawahnya.
"Yang jadi masalah karena sama tengkulak ditawar Rp 2.500 per kilo, mereka nggak mau beli, padahal kalau nggak segera dibeli seminggu lagi bakal ambruk dan rusak," kata petani dengan lahan sawah seluas 3 hektare tersebut.
Kepala Divisi Regional Bulog Jateng Djoni Nur Ashari menjelaskan meski kualitas rendah ia tetap membelinya karena beberapa alasan.
"Kami ingin membantu petani, karena kabarnya di Demak banyak petani yang tidak laku panennya, selain itu juga untuk menjaga fluktuasi harga beras nantinya," jelas pria yang mengaku baru seminggu menduduki wilayah Jateng.
Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Kementerian Pertanian Pending Dadih Permana mengatakan padi Wonosalam tidak di bawah kualitas.
"Endak, ini kan kadar airnya saja kalau dipanen dan diproses dengan baik bisa, kan Bulog punya mitra Selasa seluruh mitra akan dikumpulkan untuk koordinasi soal prosesing," terang Dadih di Wonosalam.
Ia menjelaskan, di Demak juga ada gudang dengan kapasitas 3000 ton lengkap dengan pengering, sehingga menurutnya seharusnya kendala penyaluran panen tidak perlu terjadi.
"Semua potensi yang ada kita optimalkan, barusan juga saya pesankan alat panen yang saat ini masih di Godong, Grobogan, untuk bantu mempercepat panen sehingga hasilnya bisa lebih baik," tandasnya.

(Catur waskito Edy)

AddThis Social Bookmark Button